Success is in Your Jeans ( email from Matt Furey)

I just want to sharing with you all guys. I received this email from Matt Furey, and the story is inspired me. Hope you enjoy it guys. ūüôā


Several months ago I was consulting with a¬†man who wants to be a writer. Thing is, for¬†most of his life, he’s felt incapable of being¬†one.


Well, that’s simple.

From his formative years in school, all his teachers told him that his writing was awful,
that it was below grade level, that it was sloppy and careless.

I asked to see a sample of this young man’s¬†writing. I wanted to see proof that he was as¬†bad as his teachers (and parents) told him.

Upon reviewing the man’s work, I saw a lot of¬†area for improvement – but the biggest area¬†
was NOT in the words he chooses or his style or syntax. It was in how others in positions
of influence spoke to him about his writing. 

As I looked up from his papers, he stared at¬†me expecting “more of the same.”

Instead of telling him that he’s good or not so¬†good – I chose another route.

I said, “Well, it looks to me like you definitely¬†have the writing gene.”

The man’s face brightened. He began to glow¬†with confidence and he instantly began telling¬†me how much he’d improved.

Over the last few months, almost everything this¬†man sends me for review is outstanding. Way¬†beyond what he’d written before he put on his¬†writing jeans.

That’s write/right. Jeans/genes.

We’ve heard that everyone puts his or her jeans on¬†the same way as everyone¬†else. Everyone does it¬†one leg at a time.

Is that so?

Well, if it is, why not change it?.

Sit on the edge of your bed, and pull your jeans/genes¬†on both legs at a time. And when you do so, tell yourself¬†you’re putting on your success genes.

Yes, that pair. The pair you CAN turn on.

True, some genes you have no control over. Hair color, eye color, height, bone structure, etc.

But when it comes to talent – much of what we think of as ¬†“genetic” isn’t necessarily so – and if it is, there’s good news.¬†You can “turn on” genes that are lying dormant within you.

Don’t believe me, then read¬†The Biology of Belief¬† by Dr.¬†Bruce Lipton.

The short coure to turning on dormant genes is environmental.¬†It’s what you’re around, who you’re around and the messages¬†going into your mind.

If you get messages/mental pictures of impossibility, then genes you have that could be activated remain in their slumber.

Honestly, I don’t know of any able-minded person who doesn’t¬†have the writing gene. Or the music gene. Or the art gene. Or¬†the language gene. And so on.

All of us are capable of learning just about anything. But in order to do so, a certain amount of BELIEF is necessary to get the cylinder rolling.

Some have a sense of belief within them that no one can turn on or¬†off. Others need a helping word or phrase. But you’d be amazed at¬†how a few words can improve or sideline a person if he believes¬†them.

Not that long ago my tai chi teacher confided in me. He said when¬†I began with him, he didn’t think I’d ever be any good at it. He assumed¬†I would quit within a month or two. Today, he tells me I’m the best student¬†he’s ever had. No one has learned the techniques as quickly, or as well,¬†in such a short period of time.

My daughter loves to dance. She’s absolutely passionate about it. She¬†doesn’t have the body of a classical ballet dancer – yet she loves ballet ¬†and every other form of dance she’s ever studied.

Someone once said to me that, based on her build, she has no future in ¬†dance, that she should do¬†something else that she’s genetically predisposed ¬†to doing.

Well, first of all, she loves dancing, and I’m all in favor of children doing¬†what they love to do activity wise – not what the parents decided they¬†must do because …. because that’s what our family does – or some¬†other lame reason like … “the future.”

The future is NOW. Take care of the NOW and the future will be just  fine.

Second, what exactly are you talking about when you say “no future”¬†in something, particularly dance?

She may not have a classical ballet dancers body right now – or ever –¬†but can’t she just enjoy dancing for it’s own sake?

Third, ballet is only one form of dancing Рand last time I checked, there are not only many different types of dancing, but there are people of every shape and size enjoying it and doing it well.

No future?

Really? Says who?

And if you get a name thrown back at you remember Rodney Dangerfield’s¬†line in¬†Caddyshack, “Who died and made you pope of this dump?”

We can prognosticate and pontificate with the best of the best. We can predict the future of others by punishing them with our words and phrases.

This is far easier than admitting the truth.

And what is truth?

“We don’t know.”

Truly, we don’t know how our children or anyone else is going to turn out ¬†if we let them practice their dream, their passion, their NOW.

We may look at them and scoff. We may think that he or she is wasting time (future). But there are too many parents and teachers proven wrong  for us to act like we know anything for sure.

More than 20 years ago I recall making a scrapbook filled with photos of¬†what I’d like to accomplish in the future. One of them was having an audio¬†program with Nightingale-Conant.

For nearly 20 years the future looked like it would never happen. And then,¬†one day, from out of nowhere, I had a signed contract with them. A month¬†later I was in their studios, recording¬†Theatre of the Mind. Today it’s a best¬†seller.¬†

In fact, it’s done so well I get requests for coaching nearly every day. So many¬†that I end up turning some down. This is one of the tough areas to navigate as ¬†a coach. Even so, I’m clear on one thing, I will NEVER turn someone down¬†because he supposedly has “no future.”

Everyone has a future. A bright future. If you’ll allow the genes within your¬†jeans to be turned on.

My wish is simple: I wish to give you words of encouragement that will turn on your success genes and put you on the path of success Рand help you continue your journey on that path, forever.

Your Future is NOW. And it’s bright.

Matt Furey

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar


Sore itu sehabis pulang dari kantor, saya mampir di sebuah kedai soto di Jl. Gusti Ngurai Rai, Kelender. Saya memesan semangkok soto dan duduk membaca koran menunggu macet yang belum juga terurai. Seorang ibu setengah tua dengan 2 anak dengan penampilan sederhana masuk, “Mas, berapa harga semangkok soto?” tanya ibu itu.

“Sepuluh ribu, Bu.” kata penjual soto dengan senyuman.

“Kedua anak saya sungguh ingin makan soto, tapi uang saya hanya tujuh ribu, apa bisa dibuat 2 porsi walau hanya kuah dan sedikit mie, tak menjadi masalah,” tanya ibu itu sedikit ragu.

“Oh, mari Bu masuk, silahkan duduk,” kata mas penjual soto. Lalu 3 mangkok berukuran besar sudah dihidangkan di atas meja.

“Tapi uang saya hanya 7000, mas?” tanya ibu sekali lagi dengan sedikit ragu, sang ibu masih punya harga diri untuk tidak meminta penuh.

“Oh, nggak apa apa bu. Ibu bertiga makan saja dan simpan uang ibu,” ujar penjual soto itu lagi. Ibu itu tersenyum dan membungkuk memberi hormat.

Saya tersenyum kagum melihat kebaikan penjual soto. Lima menit setelah ibu dan anak beranak itu pergi, seorang pemuda yang dari tadi duduk di pojok membayar dengan uang Rp 100.000 dan pergi begitu saja.

“Mas, ini kembaliannya”

” Saya makan 1 mangkok dan 1 bungkus kerupuk, sisanya untuk bayar ibu dan 2 anak tadi Bang,” kata pemuda itu sambil menghidupkan sepeda motornya.

Saya benar-benar terpesona dengan kebaikan-kebaikan yang hadir di depan mata saya. Si ibu miskin yang jujur yang tak mudah meminta, penjual soto yang baik dan pemuda yang pemurah. Dan saya pun kecipratan kebahagiaan itu, karena bisa menyaksikan sendiri kejadian sore ini.

Saat saya membaca kisah yang dikirimkan Eddy itu, saya membayangkan alangkah indahnya hidup di dunia ini jika setiap hari kita menyaksikan kebaikan demi kebaikan dari orang-orang di sekitar kita. Hidup begitu indah. Itulah sebabnya saya menulis sebuah buku berjudul Life is So wonderful! Saya menyaksikan banyak peristiwa unik, menarik sekaligus memberi inspirasi untuk kita teladani.

Karena kita ada di dunia ini, sudah seharusnya kita terlibat dalam lingkaran kebahagiaan ini dengan melakukan tindakan-tindakan konkret. Hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat hidup jadi lebih indah dan kebahagiaan jadi lebih gampang diraup.

Pertama, Intropeksi diri.¬†¬†Apakah selama ini kita¬†menjadi giver atau taker? Menjadi¬†tangan di atas atau tangan di bawah. Tidak apa-apa kita menjadi taker asal kita juga menjadi giver kepada orang lain lagi. Intinya, jika kita mendapat berkat, sudah selayaknya kita berbagi berkat juga. Apakah orang-orang di sekitar kita sudah “kecipratan” berkat yang kita peroleh? Saya bangga sekaligus bahagia punya istri yang suka berbagi. ¬†Setiap kali mendapat makanan, dia langsung berpikir untuk membaginya dengan orang-orang di sekitarnya.

Kedua, Belajar untuk mengambil inisiatif,  seperti contoh penjual soto yang menjadi orang pertama yang berbelaskasihan, sehingga kebaikannya ditiru oleh pemuda yang dermawan tadi.

Ketiga, berdoa kepada Tuhan untuk mengingatkan kita atas kebaikan-Nya,¬†sehingga kita pun rela berbagi. Firman Tuhan ingatkan: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”.¬†(Yakobus 4:17).¬†

Mari menjadi salah satu mata rantai kebaikan.

Disalin dari artikel “WOW” Happy Family News, 15 Februari 2015, oleh bpk. Pdt. Xavier Quentin P.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar


So I walked into the wrestling locker room at the University of Iowa, prepared to get dressed for practice.

As I sat before my locker I scanned the room, seeing who was there as well as unconsciously listening in on their conversations.

One of our national champions was before his open locker, slipping into his shoes. The night before he suffered a loss – and the look on his face told everyone present that all was NOT well in his whirled.

Someone, I’m not sure whom, took the liberty of lending a helping hand by creating a sign and hanging it on his locker.

It read, “Don’t Get Mad – Get Even!”

What a great message, I thought. Don’t focus on your loss because you cannot go back in time and redo it. But you CAN start preparing for your next
‘go round.’

Earlier today I was working with Fred. I was having him jump rope, for speed and for time as part of a health and fitness regimen I have him on.

For 30 seconds, Fred would see how many jumps he could do. A few weeks ago, he couldn’t jump rope at all. He’s improved a lot – but still has a long
way to go.

In the very first 30-second burst, Fred missed after 28 consecutive successful jumps.

“Damnit,” he frowned, then grabbed the handles of the rope tighter, mustering more of his will than before. He missed again in two jumps. And again on the next jump. And again after a few more jumps.

28 jumps without a miss. Then four misses in a much shorter period of time.

“Time,” I called at the end of 30 seconds.

He began to catch his breath, giving me an opportunity to teach him something no one else will probably ever tell him.

“When you got angry after the first miss, did you do anything physical to show it?”

“Uh, yeah, I think so.”

“Okay, what did you do? Did you increase your level of physical tension, or reduce it?”

“Good question,” he said. “I think I definitely increased it.”

“And how did that work for you?” I asked.

“Not to well.”

“Okay, let’s take a closer look at this situation. When you missed, was it because of a mental breakdown or due to something physical?”

“I”m not really sure.”

“I understand. Let me ask it this way then: Do you know how to jump rope physically?”


“Much better than a month ago when you couldn’t do it at all, right?”


“Okay great. So just before you missed, were you thinking about how many you could do before you missed?”

“Ugh,” Fred grunted.

“Very good. So let’s look at this from a different view. You pictured something you didn’t want and it happened. Then you got angry and showed it physically, right? But the breakdown wasn’t physical. The breakdown was mental. So how much sense does it make to get angry and do something physical when it’s your mind that is to blame?”

Long pause.

“Next time, stay focused on jumping successfully as many times in a row as you can. Be aware of your hands and your feet and your breathing – that’s it. Nothing more.”

Without making a single physical change, Fred doubled the number of consecutive jumps he could do in 30 seconds.

It’s a proven fact that we don’t learn faster or better when we’re angry, stressed, fearful, worried or under heavy pressure.

Yet, at the same time, we want to improve, do better, achieve our goals and then some. So how do you so without making yourself worse with negative tension?

The first part is staying relaxed. The second is free and easy breathing.

And the third is learning how to direct your mind with the creative power of mental pictures, so that you go toward what you want instead of moving further away.

When you get MAD – you’re almost always going down the wrong road – unless you’re able to intercept the anger and use it as fuel toward what you want.

The idea of “getting even” refocuses the anger toward a worthy goal. But getting mad alone doesn’t.

When you refocus the anger toward a goal, the anger changes into desire. You’re no longer angry. You’re relaxed and focused on what you want.

Going a step further, if you give yourself credit for your successful jumps, for the circumstances and events that have gone right in your life – that’s when you’re not just focused on a goal – you’re focused with peace of mind. Instead of expecting or thinking that the attainment of the goal is going to make you happy – you already ARE – and you carry that feeling with you on the journey to the goal.

Consider this: You can focus on a goal with anger, zeal, desire, passion, etc. – and do so with an expectation of your achievement somehow making you

Or you can learn how to use your positive memories from the past and bring them with you into the future, so you achieve your goal with happiness and peace of mind already within you.

The truth is there is no singular achievement that will make you happy forever. Most achieved goals won’t even make you feel good for more
than a day or two.

This means that the wiser approach is to bring happiness and peace of mind on the journey with you – and increase them even more as you accomplish your objective.

Yes, it’s a great way to live.

Inspire story that I received from coach Matt Furey by e-mail. I just want to share it with you guys…. ūüôā

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Setelah vaksinasi Hepatitis B

Seperti yang pernah saya ceritakan dalam posting terdahulu, tentang pentingnya vaksinasi Hepatitis B. Maka kali ini saya akan sharing tentang hasil vaksinasi saya tersebut.

Sepulang saya sarapan nasi udangnya bu Rudy dengan adik saya Richard  dan mama, saya singgah sebentar di laboratorium kesehatan dekat apartemen saya.  Saya ingin tahu, apakah vaksinasi yang telah saya lakukan sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 7 bulan berhasil?

Saya ditemui oleh mbak advisor lab  yang cukup ramah dan simpatik. Saya ceritakan  kepadanya keinginan saya untuk mengetahui hasil vaksinasi saya. Setelah menanyakan nama dan nomer HP saya, mbak tersebut mencari data saya di komputernya. Tidak beberapa lama, semua data pemeriksaan dan vaksinasi saya muncul di layar monitornya.  Ternyata suntik vaksinasi terakhir saya di Bulan Juli, dan test Anti HBs seharusnya dilakukan sebulan kemudian, di bulan Agustus.  Awalnya saya kuatir dengan keterlambatan saya untuk melakukan test tersebut, tetapi mbak advisor lab (waduuuhh, saya lupa namanya), sambil tersenyum, menenangkan saya, bahwa test tersebut tetap bisa dilakukan. Lega rasanya hati ini..:)

Dengan Test Anti HBs,  jumlah antibodi yang dihasilkan oleh tubuh saya akibat vaksinasi dapat diketahui.  Antibodi yang terbentuk harusnya di atas 10 mlU/mL. Jika hasilnya di bawah 10, maka vaskinasi saya gagal. Tidak terbentuk antibodi dalam tubuh saya. Dan vaksinasi harus dilakukan lagi. Test tersebut dilakukan dengan memeriksa darah saya.

Berhubung saya darah saya yang diambil untuk test tersebut cukup banyak untuk melakukan test lainnya, maka sekalian aja saya lakukan check up¬†kadar gula dan kolestrol saya….hehehehe, sambil menyelam minum air.


Hasil lab nya akan dikirimkan ke email saya, sore harinya. Praktiskan.¬†Malam harinya, saya buka email saya, ternyata hasil pemeriksaaan saya sudah terkirim. Antibodi yang terbentuk dalam tubuh saya lebih dari 1000 mlU/mL. Vaksinasi Hepatitis B saya berhasil dengan sangat memuaskan. Begitu juga dengan hasil test gula dan kolestrol saya hasilnya normal semua. Mungkin kadar kolestrol saya yg 173, meskipun masih dibawah batas toleransi 200, harus saya turunkan sedikit, dengan olah raga, dan mengurangi makanan berkadar lemak tinggi…. . Seperti kata-kata Motivasi yang saya temukan saat¬† search¬†di Instagram : ¬†“TAKE CARE OF YOUR BODY.¬†IT’S THE ONLY PLACE YOU HAVE TO LIVE IN” ¬† …..Bagaimana menurut anda?




Dipublikasi di Kesehatan, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Bagaimana agar hidup kita bahagia?

Meskipun saya sudah hidup di dunia ini hampir 50 tahun,  saya sendiri masih bingung apakah hidup saya bahagia? 

Apakah definisi bahagia itu? Apakah orang kaya itu pasti bahagia? Apakah orang miskin itu tidak bahagia? Tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan tersebut di atas. Kebahagiaan tidak ada tolok ukur yang jelas. Harta dan kekayaan bukan jaminan untuk bahagia. Orang miskin belum tentu tidak bahagia. Kaya miskin juga tidak ada tolok ukur yang pasti. Banyak orang yang hidupnya sudah berkecukupan, gaji besar, rumah mewah, mobil banyak, jabatan tinggi, masih juga korupsi. Masih merasa kurang kaya, serakah dan tidak pernah merasa cukup.

“Jadi, bagaimana agar hidup kita bahagia nih…???”

Bingung juga kan..? Nah…ini,¬† tadi pagi saya iseng-iseng buka¬† bbm (BlackBerry Massanger) saya. Saya tertarik dengan kiriman dari sepupu saya.¬† Isinya¬† kata-kata bijaksana dari Mahatma Gandhi. Ada sepuluh nasehat dari Mahatma Gandhi agar hidup kita bahagia:

  1. Lepaskanlah rasa Kuatir dan Ketakutan. Ketakutan dan kekuatiran hanyalah imajinasi pikiran akan sesuatu kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. Kebanyakan hal-hal yang anda kuatirkan dan takutkan tak pernah terjadi. It’s all Only in your Mind….
  2. Buanglah Dendam. Dendam dan amarah yang disimpan hanya akan menyedot energi diri anda dan hanya mendatangkan Kelelahan Jiwa….BUANGLAH..!!!
  3. Berhentilah Mengeluh.¬†Bahasa gaulnya…”Stop Complain…”
    Mengeluh berarti selalu tak menerima apa yang ada saat ini, secara tak sadar anda membawa-bawa beban negatif.
  4. Bila ada Masalah, selesaikan satu persatu. Hanya inilah cara menangani setiap persoalan, satu demi satu sampai tuntas.
  5. Tidurlah dengan nyenyak. Semua masalah tak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk dan tidak sehat, biasakanlah tidur dengan nyaman. Minimum tidur yang dibutuhkan oleh manusia adalah 7-8 jam sehari.
  6. Jauhi Urusan Orang Lain. Biarlah masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri. Mereka memiliki cara sendiri untuk menangani setiap masalahnya. Istilah gaulnya…”EGP,….. Emang Gue Pikirin…hahaha” ūüôā
  7. Hiduplah Pada Saat Ini, Bukan Masa lalu. Nikmati masa lalu sebagai kenangan, jangan tergantung padanya. Konsentrasilah hidupmu pada kejadian saat ini, karena apa yang anda miliki adalah saat ini, bukan kemarin, bukan pula besok. “Be totally present..!!”
  8. Jadilah Pendengar yang Baik. Saat menjadi pendengar, anda belajar dan mendapatkan ide-ide baru berbeda dari orang lain.
  9. Berpikirlah Positif. Rasa frustasi datang dari pikiran negatif. Kembalilah berpikir positif. Bertemanlah dengan orang-orang yang berpikiran positif dan terlibatlah dengan kegiatan-kegiatan positif. Hiduplah dengan “Positive Thinking”…..
  10. Bersyukurlah. Bersyukurlah atas hal-hal yang akan membawa anda pada hal-hal besar.  Sekecil apapun karunia yang anda terima, akan menghasilkan hal-hal besar dan selalu membawa anda kepada Kebahagiaan saat anda bersyukur.

Bagaimana menurut anda? Apakah anda dapat melaksanakan kesepuluh nasehat dari Mahatma Gandhi tersebut? atau hanya sebagian saja?….atau mungkin semuanya bagi anda terlalu sulit untuk dipraktekkan dalam hidup anda sehari-hari?.

Selamat Hidup Bahagia, karena hidup bahagia adalah hak semua insan manusia.

Dipublikasi di Wisdom | Tag , | Meninggalkan komentar

Pentingnya Vaksinasi Hepatitis B

Minggu lalu, saya iseng-iseng masuk ke blog-nya pak Dahlan Iskan di¬† Semua pasti tahu siapa pak Dahlan itu. Menteri BUMN, yang sekarang¬† lagi ikut konvensi Partai Demokrat untuk menjadi calon Presiden di tahun 2014 nanti. Satu-satunya CAPRES¬† yang tidak munafik dan punya “track record”¬† yang luar biasa sebagai pengusaha yang berhasil membesarkan Jawa Pos group,¬† mereformasi dan menghilangkan budaya suap di PLN, dan terakhir sebagai Menteri BUMN yang telah berhasil menyehatkan kembali beberapa perusahaan BUMN, dari selalu rugi menjadi sehat dan untung.

Di blog tersebut, saya tertarik dengan artikel “Ganti Hati” nya pak Dahlan.¬† Diceritakan dengan sangat detail pengalaman pribadi beliau menjalani transplantasi liver.¬† Artikel tersebut pernah dimuat secara bersambung di harian Jawa Pos pada tahun 2007. Anda tidak perlu repot mencari klipingnya. Semua artikel tersebut dapat anda baca di blog-nya pak Dahlan… ūüôā “Inilah enaknya hidup di Era Digital dan internet,…. semuanya tinggal¬† di google..”

Livernya mengeras (Sirosis) dan hampir tidak berfungsi lagi, karena gaya hidupnya yang selalu bekerja  keras, tidak mengenal waktu,  pada saat bekerja di Jawa Pos. Pekerjaan beliau sebagai Redaktur koran, menyebabkannya kurang tidur, dan hampir selalu stress tiap malam. Tugas beliau sebagai Ketua Redaktur, mengharuskan beliau untuk menentukan Head Line koran yang  terbit keesokkan harinya.  Jarang tidur, kurang istirahat, dan stress yang dialami beliau selama bertahun-tahun bekerja di koran, menyebabkan liver beliau kelelahan juga.

Masa kecil nya  yang dari keluarga miskin, menyebabkan beliau tidak  pernah mengenal apa namanya vaksinasi. Dan juga kebiasaan makan rame-rame dari satu tumpeng besar di desa, menyebabkan mudahnya penyebaran virus tersebut.

Semua itu menyebabkan beliau terkena penyakit Hepatits B. Setelah itu penyakit tersebut berkembang menjadi kanker liver dan kemudian menjadi sirosis.

Sirosis adalah, mengerasnya liver, sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Darah yang seharusnya masuk ke dalam liver untuk dibersihkan, tersumbat dan terpaksa mengalir balik. Hal ini menyebabkan pembuluh darah menjadi mengembang akibat tekanan balik darah yang tidak bisa masuk ke Liver, sehingga pembuluh darah tersebut menggelembung seperti balon. Ada yang kecil, dan ada juga yang menjadi besar. Gelembung yang besar lama-lama akhirnya pecah juga, akibat tidak kuat menahan tekanan darah.  Darah akibat pecahnya gelembung tersebut masuk ke dalam lambung, dan akhirnya dimuntahkan keluar.

Makanya salah satu gejalah Sirosis yang sudah akut, adalah jika penderita muntah darah.

Sirosis yang sudah parah, sulit untuk diobati, dan hampir pasti menyebabkan kematian bagi si penderita.

Sampai saat ini, teknologi kedokteran belum menemukan obat untuk  penyakit Hepatitis B. Yang ada hanyalah obat-obatan yang hanya meringankan gejala sakitnya  saja, dan memperpanjang umur pasien selama beberapa bulan.

Jika sudah sangat parah, maka satu-satunya jalan untuk sembuh yaitu dengan melakukan transplantasi liver, atau dalam bahasa gaul-nya, adalah “Ganti hati”.

Tidak semua orang dapat melakukan tranplantasi liver. Selain karena biayanya sangat mahal sekali, milyaran rupiah,  juga tergantung ada tidaknya donor yang cocok. Ketersediaan donor tidak dapat dipastikan waktunya. Selain itu antrian orang yang membutuhkan donor bukan main banyaknya.

Selain cerita pak Dahlan di atas, yang membuat saya terdorong untuk melakukan vaksinasi Hepatitis B adalah dulu papa saya juga meninggal karena Sirosis. Sama persis seperti sakitnya pak Dahlan.

Tetapi pada saat itu, awal tahun 1993-an, teknologi transplantasi liver belum ada. Meskipun kondisi papa sudah parah, papa dan oom saya mencoba berobat ke Cina. Siapa tahu bisa sembuh. Setelah menjalani berbagai  pemeriksaan dan tes laboratorium, akhirnya team dokter menyerah.  Penyakit papa saya tidak bisa diobati lagi.

Akhirnya papa hanya diberi obat saja,  untuk menguatkan kondisi livernya sementara, agar kuat balik ke Indonesia lagi. Para dokter sudah tidak sanggup mnegobati papa, karena sirosis pada sudah stadium akut. Sudah terlambat, karena livernya sudah mengeras, dan didalamnya banyak terdapat benjolan-benjolan kanker.

Karena kedua hal tersebut di atas, maka hari Sabtu lalu, pagi-pagi saya ke laboratorium medis di dekat rumah saya. Jam 06.30 pagi saya sudah tiba disana. Saya melakukan check up atas permintaan sendiri. Check up rutin, yaitu test darah lengkap, gula puasa, kolestrol, SGOT dan SGPT (check untuk liver).

Sebelum vaksinasi, saya harus melakukan 2 buah test darah tambahan, yaitu untuk mengetahui apakah liver saya ada virus Hepatitis B nya atau  tidak. Dan satunya lagi, untuk mengetahui, apakah tubuh saya masih mengandung cukup antibodi Hepatitis B dari vaksinasi sebelumnya.

Jika liver saya mengandung virus, maka vaksinasi tidak boleh dilakukan. Saya harus berobat dulu ke dokter.¬† Test tersebut namanya, HBs Ag (ELFA). Hasil test saya negatif atau Non-reaktif. Artinya Liver saya sehat dan tidak ada virusnya…..Horeee :).

hasil lab

Dan antibodi Hepatitis B dalam tubuh saya, juga  hampir tidak ada. Sehingga untuk tindakkan pencegahan, saya harus melakukan vaksinasi.

Vaksinasi dilakukan sebanyak 3 kali, dengan interval waktu 1 bulan dan 6 bulan. Vaksinasi kedua dilakukan setelah sebulan dari yang pertama. Dan vaksinasi ketiga dilakukan 6 bulan kemudian dari¬† vaksinasi yang pertama, yaitu di bulan Agustus. Setelah vaksinasi terakhir, sebulan kemudian dilakukan check up lagi untuk mengetahui apakah tubuh saya sudah membentuk antibodi terhadap virus Hepatitis B. Final check up untuk mengetahui apakah sudah terbentuk antibodi dalam tubuh saya, akan dilakukan bulan September nanti. Semoga berhasil. “Wish me Luck…guys”

vaksin hepatitis BVaksin yang saya pakai namanya Engerix-B, harganya Rp 165.000 untuk sekali suntik. Jika 3 kali vaksinasi, maka biaya yg harus saya keluarkan menjadi Rp 495.000.¬† Untuk Test HBs Ag (ELFA) dan test untuk mengetahui kandungan antibodi saya, masing-masing biayanya Rp.125.000. Total biaya yang harus saya bayar untuk 3 kali vaksinasi dan test laboratorium, sekitar 1 juta-an. Biaya yang sangat murah jika kita bandingkan dengan biaya pengobatannya. Untuk Transplantasi liver, biayanya bisa milyar-an. Menurut pak Dahlan biaya yang dia keluarkan untuk tranplantasinya seharga mobil Mercedes Benz type S-Class yang terbaru…. ūüôā

Kesimpulannya, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati penyakit. Khususnya untuk Hepatitis B, untuk mencegah penyakit tersebut, selain vaksinasi, kita harus menerapkan gaya hidup yang sehat. Apa itu gaya hidup yang Sehat? Tidur secukupnya, kalau bisa 6-8 jam dalam sehari. Berolah raga yang teratur, misalnya jalan pagi atau senam pagi minimum 3 kali seminggu. Banyak makan buah dan sayuran segar. Hindari makanan “Junk Food” atau makanan kaleng. Kalau nggak bisa menghindari makan “Junk Food”,¬† maka porsi atau frekuensi usahakan dikurangi. Misalnya, kalau biasanya setiap minggu makan “Junk Food”, maka kita kurangi menjadi sebulan sekali. Bagaimana menurut anda?

Dipublikasi di Kesehatan, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Rencana Jalan-jalan ke HongKong dan Cina

HKG Hong Kong Advertising die-skyline-von-kowloon

Nanti pada awal bulan Februari 2014, tepatnya tanggal 3 nanti, saya akan memulai perjalanan pertama saya ke HongKong dan Cina. Sebelumnya saya sudah 2 kali ke HongKong, tetapi hanya transit saja dari penerbangan saya ke Los Angeles, Amerika.

Kalau nggak salah, saya pertama kali ke Amerika pada tahu 2004 dengan salah seorang tante saya.  Kami berdua terbang dengan menggunakan maskapai penerbangan Cathay Pasific. Saya dan tante saya akan menghadiri pesta pernikahan adik perempuan saya, Hilda. Saya diminta menggantikan papa saya yang sudah meninggal sebagai wali mempelai perempuan, mendampingi mama saya.

Sedangkan perjalanan saya yang kedua ke Amerika, tepatnya ke  Los Angeles lagi, saya lakukan sendiri, dengan menggunakan maskapai penerbangan yang sama.  Perjalanan saya yang kedua ini kalau nggak salah saya lakukan pada tahun 2007-an lalu, untuk menjenguk mama saya.

Untuk permohonan visa Cina tidaklah terlalu sulit.¬† Kita hanya diminta mengisi form permohonan, foto terbaru dengan background warna putih, bukti booking hotel di Cina,¬† tiket pesawat, dan rencana perjalanan kita selama di Cina. Biayanya Rp.550.000.¬† Jangan lupa bawa paspor dan KTP anda yang asli dan masih berlaku ya.¬† Prosesnya kurang lebih 1 minggu. Dan minggu lalu Visa Cina saya sudah keluar…..Horeee. ūüėÄ

Yang akan berangkat, kami berempat, yaitu saya, oom dan tante saya, serta  sepupu saya, Lia ( anak om dan tante saya tentunya).  Rencana jalan-jalan ini hanya seminggu saja. 2 hari dan 1 malam di HongKong, 3 malam di Cina, dan semalam di Makau.

Perjalanan pulangnya, kita tidak lewat HongKong lagi, tetapi langsung dari Makau.  Dari Makau kita akan terbang ke Singapura dulu untuk transit sebelum akhirnya balik ke Surabaya. Oh ya, kita menggunakan penerbangan Tiger Air, yang kebetulan lagi ada promo.

Dipublikasi di Traveling | Tag | Meninggalkan komentar